MENYIBAK TABIR IDEALITAS VS REALITAS

7 Des 2008
Who is the wnner and who is the loser?
Oleh: M Alliyuloh Hadi*

Dalam kehidupan setidaknya ada oposisi biner (binnary opposition) yang bertentangan satu sama lain. Ada siang, ada malam, indah-buruk, cantik-jelek dan sebagainya. Idealitas dan realitas juga merupakan dua hal yang berbeda. Idealitas mendambakan tatanan jagad yang serba, superior, indah, bagus dan bernilai tinggi. Sedangkan realitas merupakan kondidi sebenarnya, objektif dan apa adanya. Realitas terkadang bagus terkadang juga jelek, terkadang order terkadang disorder.

Idealitas merupakan manifestasi dari citra ide tinggi yang ada dalam angan, konsep, cita dan asa. Manusia pasti memiliki tujuan ideal dalam hidup. Jangankan orang dewasa yang sudah mampu merasa dan menalar secara sistematis, anak kecilpun sudah memiliki mimpi menjadi dokter, presiden, insinyur, bos dan profesi-profesi puncak lainnya.

Namun, harus disadari bahwa terkadang idealitas harus tunduk terhadap realitas, pun sebaliknya terkadang realitaspun harus bertekuk lutut di hadapan idealitas. Kebodohan misalnya, adalah realitas dalam masyarakat yang memiliki kesadaran pendidikan rendah. Namun realitas tersebut akan terkikis oleh lahirnya idealitas kesadaran pendidikan masyarakat yang tinggi. Idealitas kepintaran kecerdasan dan kesadaran mampu mengalahkan realitas kebodohan, kedunguan dan keterbelakangan.

Dalam dunia mahasiswa dimana kesadaran pendidikan sudah termanifestasikan secara kongret dalam pendidikian formal, sisi-sisi idealitas kampus ternyata sering juga tertunduk berhadapan dengan realitas pertarungan ‘para idealitas’. Persaingan tersebut mengakibatkan menculnya dua idealitas yang juga ber-oposisi biner, yakni ‘idealitas hegemonik’ (the winner) dan idealitas tertindas (the loser). Di satu sisi, mahasiswa memiliki mimpi yang tinggi semisal independensi, rasional-akademik, perfeksionis, demonstrasi, advokasi masyarakat, aktualisasi diri, aktivis organisasi dan sebagainya, namun di sisi lain mahasiswa juga berhadapan dengan realitas masa depan, profesi, jabatan, berkeluarga, dan ekonomi yang ia pikirkan paska mereka di wisuda. Idealitas tersebut di atas ternyata luntur juga mengalir dari hulu ide ke hilir dunia real. Mereka pun akhirnya dengan berat hati melepaskan atribut aktivis, demonstran, kritikus, dan perfeksionis-idealis mereka, yang kemarin mereka sandang sebagai predikat dan jubah mahasiswa sejati. Idealitas superior akhirnya runtuh hanya dengan satu kedipan idealitas inferior (realitas). Idealitas pun mati tak bernyawa lagi.

Semester akhir mungkin menjadi puncak dari split idealitas-realitas tersebut. Hari-hari menjelang PKLI (KKN), skripsi dan wisuda merupakan realitas penakut yang diciptakan (mind-made horror) oleh persepsi miring dan pesimisme mahasiswa memandang masa depan. Di dalam benak mereka bukan lagi berfikir bagaimana nasib masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan sebagaimana mereka pikirkan pada awal-awal mereka menjadi mahasiswa, namun kini yang ada hanyalah berjubel individualisme, pragmatisme, pesimisme dan khayalanisme yang pada mulanya dihujat sebagai sebuah kenistaan hidup. Pertanyaan berapa harga saya? Bagaimana masa depan saya? Saya akan jadi apa? Lakukah ijazah dan predikat kesarjanaan saya? Kini bertengger gusar di kepala manusia yang dulunya ditakuti penguasa tersebut.
Pertanyaan yang akan muncul adalah secara teoritis, bagaimana mekanisme pertarungan oposisi biner tersebut terjadi? Apa sebenarnya yang menjadi parameter idelitas-realitas? Siapa yang berhak menyandang predikat manusia pemenang dan sukses? Pertanyaan yang akan sedang dan akan diulas dalam oretan kecil ini.

Siapakah sang Pemenang?
Pertanyaan yang pertama dan kedua kiranya secara implisit sudah terjawab dalam diskripsi awal tulisan ini. Pertanyaan yang ketiga mungkin agak sulit dijawab, karena menang atau kalah merupakan realitas yang membutuhkan parameter yang adil untuk dijadikan landasan pemikiran men-judge siapa the winner dan siapa the looser.

Socrates mungkin adalah orang yang gagal dalam hidupnya karena hidup dalam kekurangan dan nestapa dan mati mengenaskan karena dihukum mati dengan cara meminum racun akibat menyebarkan dan mempertahankan ajaran apa yang ia anggap dan yakini benar. Begitu juga Marx,sang maestro sosialis ilmiah yang ajarannya (dialektika materialisme historis) menjadi kiblat milyaran umat manusia, adalah orang yang gagal dalam hidupnya. Marx hidup dalam kemelaratan, kelaparan dan selalu dalam himpitan ekonomi, hingga tiga anaknya mati kelaparan dan dua lainnya bunuh diri karenanya, sampai pada waktu pemakaman Marx pun hanya dihadiri oleh 9 orang.

Begitu juga khoiril anwar, sastrawan berbakat indonesia tersebut mati muda dalam usia 27 tahun dan hidup dalam ekonomi pas-pasan, adalah manusia yang gagal dalam hidupnya meskipun karya-karyanya menjadi ikon kesusustraan indonesia. Iwan simatupangpun akhirnya adalah filosof dan pemikir yang gagal karena masyarakat pada waktu itu ngak care apalagi apresiatif terhadap hasil refleksi tulisan-tulisannya. Diapun harus masuk kategori manusia yang gagal dalam hidupnya karena miskin dan tak terkenal pada zamannya, meskipun karyanya tajam, analitis, universal dan dahsyat hingga dikagumi oleh kaum intelektual. Ahmad Wahib apalagi, pemuda madura aktivis HMI era 60-an yang pada zamannya dianggap edan tersebut, hidup dalam kemelaratan dan mati muda dalam usia 27 tahun terlindas motor dan hanya ditolong oleh para gelandangan. Ia pun harus masuk katagori orang yang gagal walaupun catatan hariannya sampai saat ini dikagumi oleh cendekiawan nusantara dan diakui sebagai pemuda indonesia pertama yang menjadi ikon pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia.

Inilah kegagalan manusia dilihat dari sisi ekonomi, popularitas dan inferioritas kontek zamannya. Dunia yang menurut Jean Baudrillard penuh dengan ‘smulakrum’ angkuh yang penuh dengan kepalsuan. Penanda (signifier) yang tidak bisa merepresentasikan petanda (signified) secara adil kata Saussure. Citra aniaya yang tercipta oleh ideological state aparatus kata Althusser. Dan kebenaran miring karena dominasi wacana hegemonik kata Gramsci. Adilkah judge kegagalan terhadap ke lima tokoh tersebut? Kayaknya ‘SANGAT TIDAK ADIL SEKALI’ ketika kegagalan dan kesuksesan manusia diukur (parameter) hanya sebatas seberapa besar uang dan popularitas yang ia peroleh. Lalu apa kiranya parameter kesuksesan manusia? (bersambung/silahkan mencari sendiri)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di http://fajar13.co.cc

*M Aliyuloh Hadi ; Ketua English Community UIN Malang,2001 – 2002,Wasekum PTKP HMI Komisariat Bahasa UIN Malang,2002 – 2003,Wakil Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris,2002 – 2003,Ketua Umum HMI Komisariat Bahasa UIN Malang,2003 – 2004,Ketua Bidang Eksternal HMI KORKOM UIN Malang,2004 – 2005,Presiden Partai Pencerahan UIN Malang,2005 – 2006, Ketua Bidang PA HMI Cabang Malang,2005 – 2006,DEPT PA HMI Badko Jawa Timur,2007 – 2008

1 komentar:

Anonim mengatakan...

http://ressay.wordpress.com/2008/12/22/antara-idealis-dan-realistis-dalam-gunemanku/#more-1396

 
 
Copyright © KAHMI UIN Malang